Jumat Agustus 22 , 2014

Be Ready, HE is coming! - Pelajaran Kitab Wahyu (26)

 

Surat Kepada Sidang Jemaat Sardis – Latar Belakang

Kota Sardis terletak 50 km di sebelah tenggara Tiatira dan memiliki sejarah yang gilang gemilang. Kota ini pernah menjadi ibukota dari Lydia kuno, kemudian dari tangan orang-orang Lydia kota ini jatuh ke tangan orang-orang Persia, kemudian ke tangan Alexander Agung dan akhirnya jatuh ke tangan Romawi. Kegemilangan kota ini didukung dengan letak geografisnya yang sangat menguntungkan. Kota ini terletak di dataran yang tinggi di lembah Hermus di kaki gunung Tmolus. Kota ini diperkuat dengan tembok, menara dan benteng yang kuat sehingga sangat sulit untuk ditembus oleh musuh manapun juga. Satu-satunya jalan untuk bisa menembus pertahanan kota ini ialah harus mendaki tebing yang hampir tegak lurus dan itu hampir mustahil untuk dilakukan. Tetapi justru kepercayaan diri yang berlebihan inilah yang membuat kota ini jatuh ke tangan musuh. Lalu bagaimana kota yang luar biasa ini bisa jatuh? Hal ini patut kita simak bersama agar menjadi pelajaran bagi kita semua.
Suatu saat pelindung kepala dari seorang serdadu Lydia yang sedang berjaga-jaga jatuh ke bawah tebing sehingga ia harus turun ke bawah tebing itu untuk mengambilnya. Kebetulan ada seorang serdadu Persia yang melihat hal ini dan ia berpikir kalau serdadu itu bisa turun ke bawah berarti mereka juga bisa naik ke atas dan itulah yang terjadi! Maka malam itu ia memimpin serdadu Persia masuk ke kota melewati tebing yang curam itu dan kota itu direbutnya. Demikianlah kota itu jatuh ke tangan musuh. Musuh datang bagaikan pencuri di waktu malam dan karena mereka tidak berjaga-jaga maka mereka dikalahkan. Dan dua kali tercatat dalam sejarah, kota Sardis ini jatuh ke tangan musuh dengan cara demikian. Salah satu ahli sejarah yang terkenal W.M. Ramsay berkata, “Kecerobohan dan kelalaian yang berasal dari kepercayaan diri yang berlebihan akan kekuatan pertahanannya menyebabkan kehancuran dinasti kerajaan Sardis”. Dan kita sebentar akan melihat bahwa Kristus juga memakai bahasa yang sama untuk memperingatkan gerejaNya yang ada di kota ini. Mari kita simak….

(Why 3:1)  "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

- “Sardis” memiliki beberapa arti :
* Mereka yang tersisa, mereka yang terluput.
* Permata yang berharga.
* Cahaya yang bersinar.
Arti kata ini menyatakan bahwa di dalam sidang jemaat ini ada mereka yang terluput yang tidak tercemar oleh kondisi gereja Sardis pada umumnya dan mereka inilah orang-orang yang tersisa, bagaikan permata yang indah di hadapan Tuhan, bagaikan cahaya yang bersinar di tengah-tengah kegelapan.

- “Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu” – Ada dua kali kata “tujuh” dipakai di sini. Angka “tujuh” adalah simbol dari kesempurnaan, simbol dari kelengkapan. Dari sini kita melihat bahwa Yesus dan Roh Kudus itu adalah satu kesatuan. Seluruh kelengkapan Roh Kudus ada di dalam Dia. Di dalam Yes. 11:1-4 dikatakan ada tujuh manifestasi (aspek) dari Roh Kudus yakni : Roh Tuhan ; Roh hikmat ; Roh pengertian ; Roh nasehat ; Roh keperkasaan ; Roh pengetahuan ; Roh takut akan Tuhan. Dan semuanya ada di dalam Kristus dengan berkelimpahan dan tidak terbatas (Yoh.3:34  Ibr.1:9).

- Roh juga adalah sumber kehidupan. Yesus Kristus memiliki tujuh Roh Allah artinya Dia adalah sumber kehidupan. Sidang jemaat Sardis ini dari luar kelihatannya hidup tetapi sebenarnya mati. Mereka perlu kehidupan. Yesus adalah sumber kehidupan. Bila mereka mau kembali kepada Yesus niscaya mereka akan hidup kembali!

- Yesus juga yang memiliki ketujuh bintang. Seperti kita ketahui bahwa “bintang” berbicara tentang pelayan-pelayan Tuhan yang Tuhan tetapkan di tiap-tiap jemaat (Why.1:20). Mengapa di sini ditekankan bahwa Yesus memegang ketujuh bintang itu? Karena Tuhan ingin mengingatkan mereka kepada fungsi gereja yakni untuk bersinar di tengah-tengah kegelapan dunia ini. Gereja harus hidup agar bisa menjadi terang bagi dunia yang gelap ini!

- “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” – Inilah keadaan sidang jemaat ini sesungguhnya. Mereka adalah gereja yang hebat, yang mengesankan, yang baik reputasinya di luar, dikagumi orang, tetapi sebenarnya di dalamnya mereka mati. Tidak lagi memiliki kehidupan. Hanya penampilan ibadah tetapi tidak memiliki kuasa ibadah! Di dalam Alkitab Amplified Bible ditulis demikian : “You are supposed to be alive, but in reality you are dead” (Engkau seharusnya hidup tetapi kenyataannya engkau mati!). Mari kita introspeksi diri. Jangan sampai kita mengalami apa yang dialami oleh gereja Sardis ini. Sepertinya kita hidup tetapi sebenarnya rohani kita sudah mati. Masing-masing kita perlu mewaspadai hal ini! (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com