Rabu Oktober 01 , 2014

Belajar Kitab Ibrani? Siapa Takut! (55)

Di pembahasan yang lalu kita sudah melihat betapa sempurnanya korban Yesus itu sehingga tidak diperlukan lagi korban-korban yang lain. Kini kita akan melihat bagaimana korban Yesus itu membuka jalan yang baru bagi kita kepada Allah.

Jalan yang Baru dan yang Hidup (Ibr. 10:19-22)

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus. Ibr. 10:19
Ayat ini masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa korban Yesus menghapus segala dosa kita bahkan segala ingatan akan dosa-dosa tersebut. Oleh sebab itu kita dapat menghampiri Allah tanpa rasa takut dan gentar. Rasa takut disebabkan karena dosa. Ketika dosa masuk ke taman Eden maka manusia pertama, Adam, diliputi rasa ketakutan. “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut karena aku telanjang” Kej. 3:10 Adam mencoba menutupi ketelanjangannya dengan daun pohon ara namun itu tidak dapat menutupi rasa bersalahnya sampai Allah sendiri membuat pakaian dari kulit binatang (Kej. 3:21). Itulah lambang dari pengorbanan Yesus. Kita tidak dapat menghadap Allah dengan mengandalkan perbuatan-perbuatan baik kita. Semua itu seperti daun ara yang tidak bisa bertahan dan yang sebentar saja layu. Hanya darah Yesus yang dapat melayakkan kita untuk datang menghampiri Allah. Kini oleh darah Yesus kita tidak perlu takut lagi untuk masuk ke Ruang Maha Kudus.
Di sini kita juga melihat perbedaan yang besar antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di Perjanjian Lama hanya Imam Besar yang boleh masuk ke tempat Maha Kudus dan itupun sekali dalam setahun. Namun di Perjanjian Baru setiap orang percaya berhak untuk masuk ke tempat Maha Kudus setiap saat. Mengapa demikian? Kita akan pelajari itu di ayat berikutnya …

Karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. Ibr. 10:20
Jawabnya ialah: Karena jalan ke Ruang Maha Kudus telah terbuka! Kita tahu bahwa antara Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus dipisahkan oleh Tabir (Kel. 26:31-35). Tabir inilah yang memisahkan manusia dengan Allah dari generasi ke generasi. Tidak ada seorang manusia pun boleh melintasi tabir itu kecuali Imam Besar sekali dalam setahun. Namun ketika Yesus mati diatas kayu salib maka tabir itu terbelah dari atas ke bawah (Mat. 27:51). Mengapa? Di ayat ini dijelaskan, karena tabir itu tidak lain berbicara tentang diri Yesus sendiri (Ing. “His flesh”: dagingNya). Jadi tabir berbicara tentang tubuh Yesus yang dihancurkan di atas kayu salib. Oleh sebab itu Allah Bapa, setelah menghancurkan AnakNya (Yes. 53:10), merobek tabir itu! Seolah-olah Ia berkata, “Seperti halnya tubuh Anak-Ku yang sudah Kuhancurkan maka kini tabir ini juga kusobek!” Dan kini kita memiliki “jalan yang baru dan yang hidup” untuk menghampiri Allah. Puji Tuhan!! Sekarang kita mengerti apa yang dikatakan Yesus, “Akulah jalan…Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” Yoh. 14:6. Yesus adalah jalan yang baru itu! Dia adalah jalan yang hidup itu!

Dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Ibr. 10:21
Jalan yang kita miliki untuk datang kepada Bapa bukan jalan yang mati namun adalah jalan yang hidup karena jalan itu tidak lain ialah Pribadi Yesus sendiri. Sebagaimana bangsa Israel memiliki seorang Imam Besar sebagai perantara mereka kepada Allah, kita juga memiliki Seorang Imam Besar sebagai perantara kita kepada Bapa yaitu Yesus, Anak Allah itu sendiri. Dia bukan hanya sebagai perantara namun Dia juga ditentukan sebagai Kepala dari Rumah Allah yang tidak lain ialah gereja Tuhan (1Kor. 3:16, 17). Luar biasa bukan? Jadi Yesus sekaligus adalah Jalan Perantara, Imam Besar dan Kepala (Pemimpin) kita!

Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Ibr. 10:22
Ayat yang luar biasa ini menutup pembahasan kita kali ini. Disini diterangkan bagaimana seharusnya sikap hati kita waktu kita menghadap Allah, yakni :
* Dengan hati yang tulus ikhlas (Ing. True heart: hati yang benar) – bukan hati yang tidak percaya, hati yang menipu, hati yang munafik.
* Dengan keyakinan iman yang teguh (Ing. Full assurance of faith) – hanya iman yang diperkenan oleh Allah. Tentang iman ini akan diuraikan dengan panjang lebar di pasal berikut (ps. 11)
Lalu apa yang mendasari sikap kita tersebut?
1. Karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurai yang jahat (Ing. Having our hearts sprinkled from an evil conscience: hati kita dipercik dari hati nurani yang jahat) – Untuk ketiga kalinya dikatakan bahwa darah Yesus berkuasa menyucikan hati nurani kita dari segala yang jahat (Ibr. 9:14  10:2). Betapa luar biasanya efek darah Yesus itu yang bisa menyucikan sampai ke dasar hati kita.
2. Tubuh kita dibasuh dengan air yang murni – Ini  berbicara tentang pekerjaan Firman yang menguduskan tubuh kita setiap hari dari segala kekotoran dunia sehingga tubuh kita diubah menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia (Fil. 3:21) (SK)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com