Senin September 01 , 2014

Menjadi Berkat

Pdt. Siane Tjong
Sabtu, 23 April 2011    

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.  Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. 2 Korintus 12:7-10
Kita sebagai anak-anak Tuhan sudah menerima berkat dari Tuhan, Tuhan Yesus sudah menyelamatkan dan menebus dosa kita di atas kayu salib, dan Tuhan menghendaki kita menjadi berkat untuk orang lain. Tuhan sudah menjadi berkat bagi kita dengan mengorbankan diriNya, demikian juga kita harus berkorban supaya menjadi berkat. Ketika rela berkorban untuk memberkati orang lain, Tuhan akan memberkati kita lebih lagi.
Rasul Paulus, ia begitu menderita sebab Tuhan mengijinkan ada sebuah duri dalam dagingnya, yaitu ada utusan iblis yang menggocoh rasul Paulus. Paulus menjerit pada Tuhan supaya Tuhan mengambil duri itu, namun Tuhan menjawab "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,” ketika mendengar hal itu Paulus tidak memaksa, sebab justru dalam kelemahan, penderitaan dan kekurangan kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam hidup kita. Duri itu diijinkan untuk ada dalam hidup Paulus supaya ia tidak meninggikan diri, demikian juga dalam kehidupan kita sebab seringkali ketika kita ditolong dan diberkati Tuhan, kita menjadi sombong.
Tuhan menuntut dalam kelemahan kita, kita tetap bisa memberi kekuatan kepada yang lain. Inilah arti dari ayat “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Di saat kita susah kita bisa memberi semangat kepada orang lain, di saat kita sakit kita bisa menghibur dan memberi kekuatan kepada orang yang lain yang sakit. Jika kita bisa melakukannya maka kita akan menerima sukacita yang luar biasa.
Pikiran dan cara Tuhan berbeda dengan cara pikir kita, justru saat kita lemah kita harus menguatkan orang lain, secara manusia hal ini tidak mungkin namun ini adalah caraNya Tuhan. Dalam Mzm. 56:4 “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” yang mengalami ketakutan adalah jiwa dan perasaan kita, namun orang percaya yang sungguh-sungguh rohnya akan tetap percaya pada Tuhan. Pikiran sering kali mengintimidasi kita, namun jika roh kita melekat pada Allah dan tetap berpegang pada Firman Tuhan (Ibr. 10:23), maka kita akan tetap kuat. Pikiran kita seringkali tidak percaya dan bimbang namun roh kita tetap percaya pada Allah. Karena itu kita harus berjuang dan tidak boleh menjadi lemah, namun kita harus menjadi kuat sebab pengharapan kita adalah Yesus yang menjadikan kita berkat bagi orang lain.
Rasul Paulus melatih tubuhnya dan menguasai dirinya (1Kor. 9:24-27), kita pun harus melatih diri kita. Sebagai orang percaya latihan kita adalah saat kita menghadapi masalah, karena itu janganlah kita putus asa saat menghadapi masalah sebab justru saat kita lemah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Hidup kita bisa kuat jika kita melatih diri kita melalui doa, membaca dan mendengar Firman, memuji dan menyembah Tuhan.
Maria sangat sedih saat Tuhan Yesus mati dan di kubur, Maria merasa Tuhan Yesus sudah pergi meninggalkan dia, namun Tuhan Yesus datang saat Maria sedih. Yesus peduli, bahkan Tuhan Yesus memanggil nama Maria (Yoh. 20:15). Tuhan peduli saat kita susah, Tuhan selalu datang pada kita, Ia mengenal setiap nama kita. Tuhan menggundang kita untuk datang padaNya, Ia akan memberikan kelegaan (Mat. 11:28-30), kita harus belajar untuk memiliki hubungan yang pribadi dengan Tuhan, jika kita dekat pada Tuhan kita akan peka pada suara Tuhan.
Dalam masalah janganlah kita menjadi marah atau bersunggut-sunggut, kita harus belajar seperti Yesus yang tidak marah saat Ia dianiaya di atas kayu salib, Ia tidak memaki-maki musuhNya, Yesus menyerah kepada Bapa. Kita harus belajar pada Yesus untuk menjadi tenang supaya kita bisa menjadi kuat, dan kita harus bisa menjadi lemah lembut supaya kita bisa menjadi berkat.
Yesus sudah menang dan menjadi berkat bagi umat manusia, karena itu kita sebagai orang percaya kita juga harus menjadi berkat bagi orang lain. (ME)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com