Sabtu Oktober 25 , 2014

Tetap Tegak Waktu Menghadapi Badai

Pdt. Siane Tjong
Minggu, 30 Januari 2011

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:4 Lembah kekelaman berarti kemalangan, kesusahan atau badai dalam hidup. Di ayat ini dikatakan “berjalan dalam lembah kekelaman.” Seringkali yang terjadi adalah kita diam, terjebak, terperangkap di dalam lembah kekelaman. Tapi Tuhan menghendaki kita terus berjalan. Mungkin saat ini kita mengalami lembah kekelaman, namun kita harus yakin  dan keyakinan itu harus tertanam dalam hati bahwa suatu saat kita akan keluar dari lembah itu. Kita harus menghadapinya. Jangan takut, karena Tuhan menyertai kita.

Mengapa badai datang? Selama kita hidup di dunia, pasti ada badai yang datang menyerang Hal itu adalah tujuan iblis untuk mencobai kita supaya kita jatuh, mati secara jasmani dan rohani. Namun Tuhan ijinkan badai itu terjadi untuk menguji kita, supaya kita bisa lulus dalam ujian dan menang dalam peperangan. Kita harus mengambil ketetapan, mau mati karena iblis menghendaki atau kita mau tetap hidup. Semuanya tergantung pilihan kita, tapi badai pasti datang, kita pasti berjalan dalam lembah kelam. Namun meskipun badai datang, dalam badai itu Tuhan ada menyertai kita.
Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku…  Mzm. 27:6. Mengapa Daud tetap tegak waktu menghadapi musuh? Saat kita menghadapi musuh biasanya merasa jatuh dan terpukul. Tapi dalam diri orang percaya, Tuhan sudah letakkan satu kekuatan dan daya tahan. Meskipun sempat merunduk, tapi saat badai itu lewat kita akan tegak kembali. Pada saat itu, Daud sedang berperang, tetapi Tuhan ada meremukkan musuh-musuhnya.
Sebagai manusia, kita tetap berperang, bergumul. Orang yang bergumul, pasti kekuatannya terkuras habis sehingga menjadi lemah. Rahasia Daud supaya dapat tetap tegak adalah, “sesudah perang, ia minum air” (Mzm. 110:5-7).  Air berbicara tetang Firman Allah  dan Roh Kudus. Kalau kita berperang tapi tidak minum Firman Allah dan tidak membiarkan Roh Kudus mengalir dalam kita, kita akan jatuh.

Kebenaran-kebenaran yang harus kita jalani supaya tetap tegak dalam badai.
1. Harus yakin dan mengalami Yesus ada dalam badai. Saat kita mengalami badai, kita pasti merasa panik, tidak tahu harus melakukan apa. Ini berarti kita tidak yakin bahwa Yesus ada di dalam badai. Hal itu normal tetapi kita harus menguasai diri, yakin dan percaya bahwa Yesus ada di dalam badai sehingga ketenangan akan datang. Yesus ada bukan hanya saat kita diberkati tetapi terlebih saat kita ada di dalam badai. Kita boleh panik, takut, kehilangan akal, tetapi kita harus melatih diri untuk mendengar suara Roh Kudus. Roh Kudus ada di dalam kita, tapi seringkali kita meremehkan. Roh Kudus yang ada di dalam kita lebih besar dari roh dunia (1Yoh. 4:4). Itulah yang membuat kita bisa tetap tegak dalam menghadapi badai
2. Dengar suaraNya. Waktu badai datang, dengarkanlah suara Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita melalui hati nurani. Orang sering salah jalan sehingga menghadapi kesulitan karena tidak mendengar suara Tuhan. Kalau ada sesuatu yang tidak beres hati nurani memberi peringatan, tapi kita bisa terjebak karena kita tidak mendengarkannya. Orang percaya yang tetap setia mendengar suara Tuhan, berdoa, baca Firman, pasti hati nuraninya berfungsi dengan baik. Tuhan berbicara melalui Firman yang kita dengar, bisa melalui keadaan yang terjadi, bisa juga melalui mimpi. Kita harus peka jika Tuhan yang sedang berbicara.
3. Melakukan. Setelah mendengar, bukan hanya mendengar tapi melakukan. Suara Tuhan terkadang lembut, kadang keras, tidak enak, kadang tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi kita harus tetap melakukan kehendak Tuhan. Bangsa Israel pada waktu mendengar suara Tuhan, mengeraskan hati sehingga banyak korban yang terjadi (Ibr. 3:7-8). Dalam Amsal juga dikatakan bahwa orang yang mendapat teguran tapi tidak melakukan, akan diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Tuhan senantiasa berbicara kepada kita, tinggal kita mau mendengarkan dan melakukan atau tidak. Luk. 6:46-48 mengisahkan tentang dasar bangunan. Membangun di atas batu karang itu sangat sulit, tapi batu karang adalah Tuhan Yesus. Kalau segala sesuatu didasarkan pada Tuhan Yesus, disesuaikan dengan kehendak Tuhan Yesus, (rencana, kehendak, cita-cita kita) kita tidak akan roboh meskipun badai datang.
4. Mujizat terjadi. Mujizat itu perlu tapi bukan intinya. Mujizat akan terjadi kalau kita sudah melakukan ke-3 hal tersebut di atas. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya Mrk. 9:23. Percaya berarti benar-benar yakin bahwa Yesus ada di dalam kita. Saat ini orang hanya mencari mujizat. Iblis juga bisa mengadakan mujizat tetapi dia meminta imbalan, berupa nyawa kita atau orang yang kita kasihi. Jika Tuhan yang memberi mujizat, hati Tuhan sendirilah yang ingin memberikan kepada kita. Mujizat bukan hanya dihitung dari uang, keberhasilan ataupun pangkat. Mujizat yang sebenarnya adalah saat kita bisa tetap tegak menghadapi badai, ada sukacita dan pengharapan.
5. Menang atas pencobaan. Pencobaan bukan hanya berupa hal yang menyusahkan, namun juga hal yang menarik seperti perzinahan, korupsi, dan sebagainya. Kalau kita tidak melakukan hal-hal yang dibenci Tuhan, tetap bersukacita dalam pencobaan, berarti kita menang

Mari pegang Firman Tuhan, meskipun berjalan dalam lembah kelam, kita tidak takut. Suatu saat kita akan keluar dari lembah kelam, kita akan menang dan nama Tuhan dipermuliakan. (LL)

"Mengampuni, Mendoakan, Memberkati"

Pdt. Yusak Tjong

Gereja Pantekosta di Indonesia Lembah Dieng

Jl. Lembah Dieng H1 Malang

phone (0341) 551692

fax (0341) 559435

 

contact : support@gpdilembahdieng.com

www.gpdilembahdieng.com